Kamis, 03 Maret 2011

Lampu Di Tikungan Jalan

Sudah dua minggu ini aku mati. Aku merasa kasihan pada orang-orang yang melewati tikungan jalan di bawahku. Pengemudi kendaraan bermotor mungkin tak terlalu merasa kehilanganku. Namun, para pejalan kaki selalu mempercepat langkah mereka tiap kali tiba di sini. Nyata sekali mereka merindukanku. Rasa itu sedikit terobati kala mereka melihat sinar lampu bohlam sepuluh watt berjarak sepuluh meter dariku. Walau redup, sinar itu mampu menenangkan hati mereka.
Pak tua itu yang membuatku mati. Ia mensabotase sumber penghidupanku. Aku sungguh tak mengerti apa yang menginspirasinya berbuat begitu. Kupikir mungkin ia terlalu banyak menghabiskan masa tuanya menonton film James Bond. Aksi-aksi detektif itu mengaburkan ingatannya tentang bagaimana dulu ia bersikeras memberikan kehidupan pertama bagiku. Dan kini setelah dua tahun menjamin pasokan energiku, ia menghentikannya dengan semena-mena. Sungguh keterlaluan!.
Jalan itu hanya selebar dua meter, diberi nama Gg H Muhasin, terbuat dari beton mulus sejak dari pangkal hingga ujung jalan. Tikungan pertama tepat berada di bawahku, kira-kira empat ratus meter dari titik nol jalan. Rumahku menempel pada dinding belakang rumah seorang lelaki muda berkaca mata.
Tikungan itu berbelok ke kiri dari arah pangkal jalan. Rumah lelaki muda berkaca mata tepat di kanan jalan sepanjang tikungan. Tanpa penerangan, dinding belakang rumahnya sangat rentan tertabrak kendaraan bermotor. Sebelum aku ada di situ, pengguna jalan hanya mengandalkan sinar lampu belakang rumah yang menembus lubang angin di bagian atas dinding. Selain itu juga dari sebuah lampu bohlam sepuluh watt yang terpasang sepuluh meter sebelum tikungan, tepat di depan rumah milik perempuan tua yang sering dipanggil Bu Mimi. Antara rumah Bu Mimi dan rumahku, sepanjang jalannya diapit kebun kosong dengan aneka macam pohon buah-buahan.
Warga setempat mengharapkan lelaki muda berkaca matalah yang memasang lampu penerang jalan sepanjang tikungan. Rumahnya tepat di sana dan ia berkepentingan langsung melindunginya dari kemungkinan tertabrak. Sebaliknya, lelaki muda berkaca mata itu justru berpikir Gg H Muhasin ini adalah sebuah jalan kecil yang memiliki sepuluh polisi tidur sebelum tikungan, jadi menurutnya mustahil para pengemudi bisa ngebut dan menabrak dinding  rumahnya. Ia pikir memasang lampu penerang itu bukanlah prioritas utama.
Ia seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun dan masih lajang. Rumah itu adalah investasi baginya. Ia kerap dinas luar kota sehingga jarang menginap di situ. Akibatnya lampu penerang jalan itu tak kunjung terpasang. Hal ini membuat gemas Pak Tua yang rumahnya tepat di sebelah rumah si lelaki muda berkaca mata tadi. Ia merasa kebutuhan akan lampu penerang di tikungan jalan itu sangat mendesak.
“Biar saya saja yang mengerjakannya, Pak Hen,” seorang tukang bangunan yang tinggal tak jauh dari tikungan itu, membujuk Pak Tua, “Saya juga tahu soal instalasi listrik.” lanjutnya.
Tukang bangunan ini usianya tak terpaut jauh dengan Pak Tua yang ternyata bernama Pak Hen. Sejak kepindahan Pak Hen ke rumah itu, mereka memang terlihat menjalin persahabatan yang cukup dekat. Pak Hen sering memberi pekerjaan pada si tukang bangunan seperti membersihkan rumput liar di taman, memperbaiki genteng yang bocor, menambal dinding yang retak, hingga membersihkan toren air. Sebagai imbalan, Pak Hen memberikan upah.
“Iya, tapi kan lampu itu harus menempel di dinding belakang rumah Pak Sam supaya sinarnya pas di tikungan. Jadi kita perlu persetujuan dia dulu.” jawab Pak Hen.
“Wah, nunggu dia ya lama! Lha wong dia jarang tinggal di sini. Keluar kota melulu!” sahut si tukang bangunan.
“Lha, mau bagaimana lagi?”
“Ya, inisiatif gitu lho, Pak Hen. Sampeyan beli saja lampu berikut tiang dan kabelnya. Nanti, kalau Pak Sam pulang, sampeyan bilang padanya pembelian lampu dan biaya pemasangan di bagi dua antara sampeyan dan dia.”
“Kalau dia ngga setuju bagaimana?”
“Ya pasti setuju! Belokan itu kan pas di belakang rumah dia. Kalau ngga ada lampu di situ, dinding belakang rumah dia bisa tertabrak kendaraan!”
Pak Hen mengangguk-angguk setuju, “Kau benar, Pak War. Dia pasti setuju!”
Pak War, si tukang bangunan itulah yang membebaskan aku dari tumpukan di sebuah etalase toko alat-alat listrik. Aku senang padanya.
Sambil menentengku, Pak Hen mengetuk pintu rumah Pak Sam, si lelaki muda berkaca mata, ketika ia kebetulan menginap. Pak Hen menceritakan niatnya memasang lampu penerang jalan sepanjang tikungan. Kulihat Pak Sam mengangguk-angguk mengerti. Karena lampu itu akan menempel di dinding rumahnya, maka saklarnya pun akan berada di sana. Tak lupa tentang biaya yang dibagi dua antara mereka. Di luar dugaanku, ternyata Pak Sam tak terlalu menyukaiku.
“Wah..kok lampu neon, Pak?” komentarnya dengan nada kecewa.
“Harusnya lampu apa? Lihat saja semua lampu penerang jalan, ya lampu neon!” jawab Pak Hen.
“Yaaaa…..,” Pak Sam urung menjawab. Dari caranya memandangku kurasa ia hendak mengatakan aku kurang menarik, “Begini aja deh, Pak Hen. Karena saklarnya akan berada di rumah saya, biar saya saja yang memasangnya. Saya akan menyuruh Pak Mal mengerjakannya karena ia yang tahu instalasi listrik rumah saya.” lanjutnya.
“Biar Pak War saja yang mengerjakannya. Dia bisa kok!”
“Wah, saya ngga mau pasang lampu asal-asalan, Pak. Saya ngga mau melihat kabel bersliweran di dinding rumah saya. Saklarnya juga saya mau yang tinggal pencet saja.”
Pak Hen kelihatan kurang setuju, ia diam sesaat.
“Kalau begitu biar listriknya diambil dari rumah saya saja! Pak Sam tinggal menyumbang separuh biayanya.” Pak Hen memutuskan sepihak.
Keinginan Pak War mendapatkan proyek mengerjakan lampu penerang jalan itu akhirnya terwujud. Dia sangat berterima kasih pada Pak Hen yang serius mempertahankannya menjadi kandidat tunggal mengalahkan saingannya, Pak Mal, sesama tukang bangunan. Aku dipasang di sudut dinding pagar belakang rumah Pak Sam, menghadap tepat ke tikungan. Pasokan energiku melewati kabel panjang dari dalam rumah Pak Hen, melintang tegak lurus.
***
Sudah dua tahun aku tinggal di situ. Aku sangat menyukai tugasku menerangi jalan selebar dua meter itu. Aku sudah menyimak berbagai penggalan obrolan mereka yang melewatinya. Ada tawa, tangis, pertengkaran, bahkan transaksi lewat telepon genggam. Karena sinarku begitu terang di tahun pertamaku, beberapa anak lelaki tanggung bahkan sempat menjadikan tikungan itu sebagai tempat nongkrong. Sambil bersandar pada dinding belakang Pak Sam, mereka ngobrol sambil bertukar rokok hingga jauh malam. Belum ada yang menegur. Beberapa hari kemudian mereka bahkan membawa gitar dan ramai-ramai menyanyikan lagu hits band papan atas negeri ini. Mereka baru berhenti setelah mendapat teguran Pak RT atas keluhan beberapa warga sekitar, termasuk Pak Hen dan Pak War.
Aku bersahabat baik dengan pohon nangka dan pohon rambutan yang hanya berjarak lima meter dari tempatku. Mereka adalah dua di antara banyak pohon buah yang menghuni kebon kosong di belakang rumah Pak Hen. Aku pikir kedua sahabatku itulah yang paling sering membuat takut para pemakai jalan, terutama pejalan kaki. Pasalnya keduanya berdaun lebat, sangat rimbun. Angin malam membuat dahannya bergeretak dan daunnya bergoyang bahkan kadang saling bergesek menimbulkan suara yang cukup membuat merinding. Ditambah gelapnya tikungan ini sebelum ada aku, maka bisa kupastikan para pejalan kaki itu secara reflek akan mempercepat langkah kaki mereka.
Kawanku yang lain adalah laron-laron yang selalu mengerubungiku berebut bercerita tentang kisah mereka setiap menjelang malam setelah hujan sore. Aku akan menjadi saksi bagaimana beratus-ratus laron itu menabrakan diri, jatuh, kehilangan sayap dan kemudian meregang nyawa usai menciumiku. Namun sayang, sejak aku mati dan tubuhku membeku, mereka tak sudi lagi mendekatiku. Aku dicampakkan begitu saja. Bahkan tanpa malu sedikit pun mereka mengerumuni si lampu bohlam sepuluh watt itu, bercumbu di depan mataku. Kurang ajar betul!.
Dua minggu yang lalu, menjelang Maghrib, aku sudah bersiap-siap melakukan tugasku. Sambil menunggu pasokan energi mengalir ke tubuhku, aku bertasbih memuji kebesaran Illahi. Hingga lepas Maghrib, aku tak kunjung merasakan kehidupan. Barangkali Pak Hen lupa. Aku bersabar menunggu hingga adzan Isya terdengar. Namun lagi-lagi aku kecewa. Hingga tengah malam bahkan hingga fajar beringsut aku tetap tak merasakan energi yang menghidupkan itu. Aku sangat yakin penyebabnya bukan putusnya jaringan dalam tubuhku, karena aku merasa sangat sehat. Bisa bersedakah sinar setiap malam membuat hidupku penuh dengan rasa syukur pada Allah yang mengijinkanku hidup lewat tangan-tangan manusia. Kesempatan langka itu membuatku sangat menjaga kesehatanku. Aku juga tahu aku memiliki jangka waktu hidup sesuai garansi yang diberikan oleh pabrik pembuatku. Aku sangat yakin kini belum saatnya.
Esoknya, aku tak sabar menunggu Maghrib datang. Aku sungguh berdebar-debar ketika bedug Maghrib mulai ditabuh. Adzan Maghrib pun berlalu, kemudian disusul adzan Isya, kemudian tengah malam, fajar, matahari, semua sudah berputar sesuai waktunya namun lagi-lagi energi penentu hidup matiku itu tak kunjung menghampiri. Aku menunggu lagi esok hari, esoknya lagi dan lagi. Hingga detik ini aku masih membeku.
Samar-samar aku ingat dua minggu yang lalu aku sempat mendengar Pak Hen bersitegang dengan Pak War. Aku tak tahu persis penyebab pertengkaran itu, aku hanya mendengar sepenggal kalimat yang menyembur dari mulut si tukang bangunan.
“Saya tahu situ kaya! Tapi situ tahu apa soal bangunan? Saya lebih tahu. Saya sudah berpengalaman lebih dari tiga puluh tahun. Tahu persis soal bangunan sampai detil-detilnya. Jangan karena situ kaya situ merasa berhak ngatur-ngatur kerja saya!”
Apapun penyebabnya, pasti sudah menyinggung hal yang paling dasar. Hingga dua kawan yang dulu bersahabat dekat, saling membela kepentingan masing-masing saat bekerja sama menghadirkan aku di tikungan jalan ini, kini bersimpang jalan tak lagi bertegur sapa. Aku baru mendapatkan petunjuk hal ihwal kematianku ketika Bu Mimi bertanya pada istri Pak Hen.
“Lampu neon belakang itu mati ya, Jeng? Sudah lama ngga nyala.” tanya Bu Mimi.
“Ngga tahu tuh Pak’e. Biar saja katanya, ngga usah dinyalain lagi.” jawab istri Pak Hen.
“Tapi lampunya sendiri ngga mati?”
“Ngga.”
Jadi Pak Tua itu sengaja menghentikan pasokan energi untukku? Kurang ajar betul! Apa dia tidak tahu bahwa pahalaku bersedekah memberi terang kepada para pemakai jalan kecil ini juga mengalir padanya? Seenaknya saja dia main sabotase!
“Bagaimana tagihan listrik bulan ini, Bu’e?” lamat-lamat kudengar obrolan Pak Tua dengan istrinya lewat lubang angin dinding belakang rumahnya. Kusangka keduanya tengah ngobrol di ruang belakang rumah mereka. Angin membawa berita itu padaku, menjawab semua pertanyaanku.
“Tak semahal bulan lalu, Pak. Alhamdulillah. Keputusan Pak’e mematikan listrik lampu neon di tikungan itu lumayan membantu.” jawab istrinya.
“Ya pasti, orang lampu itu wattnya seratus, ya makan listrik banyak. Mana TDL naik terus. Lagipula lampu itu kan ada di dindingnya Pak Sam. Ya mestinya ambil listrik dari rumah dia,”
Pak’e ngga ingat dulu siapa yang bersikeras ambil listrik dari rumah kita?”
“Sudahlah, itu kan dulu. Sekarang ya lain lagi.”
Aku sedih. Sedih sekali. Manusia memang mudah sekali berubah. Dan karena keputusan lelaki tua itu untuk berubah, aku jadi ikut merasakan akibatnya, aku tidak bisa lagi bersedekah memberi terang pada pemakai jalan yang walaupun hanya selebar dua meter tapi makin lama makin ramai dilalui. Aku sungguh iri melihat bulan di atas sana yang mampu memberi terang dengan pasokan cahaya dari tuan matahari. Pasokan yang terjamin dan tak akan pernah berhenti hingga hari kiamat kelak.
Yang bisa kulakukan kini hanya berharap. Berharap si lelaki muda berkaca mata, Pak Sam,  terketuk hatinya untuk ikut bersedekah bersamaku setiap malam.
 Depok, 3 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar